Bel
penanda jam istirahat merupakan waktu yang sangat – sangat ditunggu oleh para
murid bermuka sepet setelah pelajaran
fisika yang gak pernah ngerti – ngerti mulai Jaman Nabi Adam. Bagaikan bel yang
dibunyikan dari Surga para murid begitu gembira dan bersyukur alhamdullilah. Di
waktu istirahat mereka selalu melakukan hal yang sama setiap harinya yaitu : berlomba – lomba menuju ke kantin,
mengerjakan PR, dan berpacaran. Tetapi yang paling utama dari ketiga perkara
tersebut adalah perlombaan ke kantin, karena jika terlambat beberapa detik saja
yang terlihat hanyalah lautan siswa. Kali ini, Anto beruntung datang duluan karena
setelah dia membeli semangkok soto sudah banyak anak – anak yang menunggu
giliran di belakangnya.
Perutnya lapar sekali setelah pelajaran fisika tadi,
ketika baru memakan beberapa suap soto tiba – tiba dia dikagetkan oleh tepukan
di pundaknya. Saking kagetnya, dia hampir saja melancarkan tinjuan mautnya,
tetapi setelah kagetnya hilang ternyata yang menepuk pundaknya hanyalah teman
mainnya dulu.
“Gimana kabarnya jadi murid kelas 9A, enak? “, kata
temannya.
“Ya enaklah, tapi masih enakkan soto”, balasnya.
“Ah kamu ini, tapi sudah punya pacar
belum? Kalok belum mau aku carikan?” , kata temannya lagi,
“Belum, aku juga nggak mau punya pacar.
Buat apa punya pacar? Pemborosan” , balas Anto.
”Kamu nggak asik yah, tapi terserah kamu deh aku tinggal
dulu ya” ucap temannya sebelum beranjak dari tempat Anto. Tanpa mengucap
apa-apa, Anto hanya melambaikan tangannya kepada temannya.
Sejenak, dia memikirkan apa yang dikatakan temannya tadi
tentang pacar. Mungkin kata yang diucapkannya tadi bisa keluar dari mulutnya
karena suatu peristiwa yang sudah terjadi di masa lalunya. Waktu sedikit mundur
menuju masa SD Anto. Saat itu kelas 1 SD, Anto adalah anak yang polos dan yang
ada dalam pikirannya hanya dua hal yaitu berbakti kepada orang tua dan belajar.
Sebenarnya Anto merupakan anak yang pendiam dan kurang pandai dalam bergaul
jadi temannya sedikit. Tetapi semua itu berubah ketika Anto sudah melewati
Semester I. Dia mulai merasakan suatu hal yang tidak pernah ia rasakan yaitu
saat dia melihat gadis manis bernama Hamizah. Hamizah juga satu kelas
dengannya, karena di sekolahnya hanya ada satu ruangan di setiap kelasnya.
Ketika pertama kali melihatnya, Anto tidak tahu harus berbuat apa jadi dia
memendam perasaannya. Bahkan dia juga tidak tahu siapa namanya, tetapi hal itu
terjawab setelah dia naik ke kelas 2. Karena sedikit demi sedikit dia mulai
mempunyai teman jadi dia mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada salah
satu teman Hamizah yang bernama Risma.
“ Siapa sih nama temanmu itu?” , kata Anto.
“ Siapa ya?” balas Risma.
“ Itu loh yang selalu pulang bareng sama kamu” , kata
Anto lagi.
“ Oooh, Hamizah namanya” seru Risma.
Setelah dia mengetahui namanya, dia semakin suka padanya.
Pada suatu hari, Anto bermain kejar-kejaran bersama adiknya. Karena bermain
sampai jauh, eh dia berpapasan sama Hamizah yang pada saat itu juga bermain
bersama adiknya. Jadilah mereka berempat bermain bersama, setelah capek,
Hamizah mengajak Anto untuk main ke rumahnya. Tentu saja Anto sangat senang
sekali karena diajak oleh Hamizah sendiri, dia kaget ternyata Hamizah anak yang
ceria dan aktif padahal pada saat di sekolah Hamizah tidak banyak bicara. Anto
juga kaget jika rumahnya berdekatan dengan rumah Hamizah.
Keesokan harinya Anto pamit untuk pergi ke rumah Hamizah.
Di rumahnya dia bermain komputer, melihat kartun, bahkan diajak makan siang
bersama oleh keluarganya. Hatinya sangat bahagia bagaikan pepatah pucuk dicita
ulampun tiba. Tetapi karena sangat senangnya, dia lupa waktu. Dia bermain
sampai siang dan akhirnya dijemput oleh ibunya. Maklum dia masih kecil, lalu
waktu itu lagi maraknya penculikan anak kayak di sinetron gitu – gitu. Setelah
hari itu, Anto selalu berkunjung setiap minggunya. Bahkan Anto sering mengajak
Hamizah untuk pulang bareng, mereka sering mengobrol tentang film yang
ditayangkan di televisi maklum namanya juga anak – anak. Mereka sudah berteman
dekat, bahkan sudah seperti berpacaran. Akan tetapi jika Anto ditanya oleh
temannya yang lain dia hanya menjawab “cuma berteman aja kok, nggak ada apa –
apa”, sekarang dia sudah menjadi ahli dalam dosa kecil yang disebut BERBOHONG.
Sebenarnya, Anto ingin menyampaikan perasaannya pada Hamizah ( kalau sekarang
istilah gaulnya namanya ‘nembak’ ). Tetapi katanya kalau anak kecil pacaran
nanti cepet tua. Namanya anak kecil kalau dikatain begituan gampang percayaan dia
jadi tidak mau mengatakannya. Pada suatu hari
Hamizah berkata “Kamu punya film nggak?”.
“Film? Buanyaak
sekali”, balas Anto dengan pedenya.
“Oh ya, bawa donk ke rumahku, aku mau lihat”, kata
Hamizah.
“Oke, tapi filmnya
cuma’ tentang dinosaurus aja lho”, balas Anto yang memang penggemar berat hewan
tersebut, dia punya koleksi buku – bukunya, mainannya, sampai baju – bajunya.
“Nggak apa – apa”, kata Hamizah.
“Ngomong – ngomong hewan kesukaanmu apa sih?”, tanya
anto.
“Aku nggak suka hewan”, jawab Hamizah.
“AH, kamu nggak asik nih”, jawab Anto
Pada hari Minggu seperti biasa Anto pergi ke rumah
Hamizah. Kali ini dia membawa film untuk ditonton seperti yang diminta oleh
Hamizah. Setiap kali ke rumahnya, Anto selalu membawa film – film yang berbeda.
Karena selalu ingin memberitahu film – film nya pada Hamizah, sampai ketika
Hamizah sakit Thypus pun Anto tetap berkunjung untuk menjenguknya sambil
membawa film. Tetapi hal itu membuat ibu Anto menjadi khawatir karena Anto
selalu berkunjung ke rumah Hamizah sampai akhirnya ia memarahinya.
“Kalau kamu terus – terusan pergi ke
rumah Hamizah, kemasin bajumu dan pindah ke rumahnya sana!”, kata ibu nya
dengan nada yang agak keras.
“Iya bu, saya sudah nggak lagi ke
rumahnya”, jawab Anto lesu.
Setelah kejadian itu, Anto sudah tidak pernah lagi datang
ke sana. Hubungannya mereka pun merenggang. Sekarang Anto sudah beranjak ke
kelas 4, dia mulai berteman dengan teman – temannya yang tergolong nakal dan
dia pun sudah tidak polos seperti dulu lagi. Sekarang dia menjadi anak yang
suka menjahili anak – anak perempuan, bahkan Hamizah.
“Wah, kamu abis ngerayain pesta
ya?”, goda Anto
“Pesta apa? Nggak ada yang ulang tahun, kan?”, jawab
Hamizah
“Itu tuh si Rosi di Moto GP
kemarin kan menang, hihihi”, balas Anto dengan
tertawa
“Huh, dasar”, jawab Hamizah kesal.
Dia kesal
karena Anto selalu menggodanya dengan menyebut nama ayahnya. Ya memang karena
nama ayahnya sama dengan pembalap Valentino Rosi itu. Sekarang mereka selalu
bermusuhan. Setiap harinya mereka selalu berusaha untuk saling menjahili dan
berakhir dengan saling mengejek. Bahkan pada suatu hari
“Eh kamu tahu nggak,
tadi di berita Jalur Gaza diserang oleh Israel”, kata Hamizah
“Oh ya? Wah kasihan
ya”, jawab Via salah satu teman dekat Hamizah
“Ya kasihan memang,
makanya kalau bisa aku mau membantu mereka”, kata Hamizah
Karena
dari tadi Anto mendengar percakapan mereka, lalu dia menjawab “Halah, kok kamu ngurus mereka orang kamu aja masih
perlu bantuan kok, dasar Orang Palestina”
“Biarin, dasar Orang Israel”, balas
Hamizah
“Ya Orang Israel”, timpal Via
“Enakkan aku Orang Israel daripada
kalian berdua Orang Palestina punya senjata buat nyerang kalian berdua”, kata
Anto
“Hiiii, ada Orang Israel” Jawab
mereka berdua
Ya, mereka selalu saja saling
menjahili. Setiap kali bertemu selalu saja saling mengejek seperti itu. Tetapi
meskipun bermusuhan, ternyata mereka masih saling peduli. Buktinya ketika Anto
khitannan, Risma dan teman – temannya datang untuk menjenguknya. Ketika Risma
dan yang lainnya memberi kado dengan uang patungan, Hamizah membawa sendiri
hadiahnya yang merupakan barang dagangan orang tuanya. Orang tuanya adalah
penjual buku pendidikan islami. Bahkan kado pemberian Hamizah adalah buku cerita fabel, kesukaan
Anto karena dia sangat suka hewan. Tentu saja hal itu membuat Risma dan gengnya
berkata yang selalu dikatakan semua anak bila melihat sesuatu yang seperti itu.
Kata yang sangat simpel tetapi sangat besar artinya. Suatu kata yang sangat tidak
enak didengar. Suatu kata misteri. Suatu kata yang..... ah, panjang amat
penjelasannya. Kita menyebutnya dengan kata C-I-E-E-H atau S-O-S-W-E-E-T dibaca
“Cieeeh” atau “So Sweet”.
Tentu saja membuat Anto dan Hamizah risih karena mereka
bermusuhan. Tetapi sebenarnya Anto sangat senang dengan hadiah yang diterimanya
yang bahkan sampai dia SMP pun masih menyimpannya. Meskipun begitu tetap saja
mereka bermusuhan, sepertinya sekarang Anto sudah tidak mempunyai perasaan
kepadanya. Tetapi perasaan Anto memang sangat aneh. Dia memang bermusuhan
dengan Hamizah, selalu menggoda dan menjahili dengan apapun dan bagaimanapun
caranya. Akan tetapi, ketika temannya yang bernama Yohan ingin me ‘nembak’
Hamizah, Anto sangat geram dan cemburu. Untung saja Hamizah menolaknya karena
perbedaan mereka sangat jauh. Bukannya menghina, jika dibandingkan menggunakan
minuman, Hamizah adalah susu Swiss sedangkan Yohan adalah kopi luwak top brand.
Hal itu membuat hati Anto gembira, tetapi juga membuat Yohan menjadi usil juga
terhadap Hamizah. Memang aneh Anto dan Hamizah ini. Dibilang berteman nggak
bisa, dibilang bermusuhan juga gak terlalu. Tetapi permusuhan semakin lama
semakin besar, karena Anto secara perlahan tapi pasti telah berubah lagi
menjadi anak yang jorok. Hal ini dikarenakan dia berteman dengan anak bernama
Nugroho yang dianggapnya sebagai guru dalam hal yang bersifat jorok. Memang
Anto sendiri yang salah, karena setiap harinya dipanggil teman – temannya
dengan sebutan ‘banci’ dia jadi terhasut oleh mereka untuk melakukan persis
seperti mereka agar tidak disebut dengan nama itu. Dia paling tidak senang
apabila dipanggil ‘banci’ makanya dia berteman dengan Nugroho agar terlihat
lebih gaul. Karena sifat joroknya tersebut, dia semakin jauh dari Hamizah. Bahkan pikirannya pun tentang perempuan
semakin aneh – aneh dan membuat Hamizah takut kepadanya. Pada suatu hari saat
bertemu dengan Anto
“Kenapa sih kamu kok jadi begini”, katanya dengan sedikit
jengkel
“Jadi gimana? Aku, kan nggak berubah”, jawab Anto dengan
santainya
“Ya, jadi seperti anak – anak itu”, katanya lagi
“Terus, masalah”, jawab Anto lagi
“Huh, susah ya ngomong sama kamu”,
katanya sambil pergi dari hadapan Anto
“Babain”, jawab Anto setengah berteriak
Setelah kejadian itu Anto sama
sekali tidak tertarik lagi dengan teman perempuannya manapun. Karena kebanyakan
dari mereka akan menjauh, kecuali Risma yang merupakan teman dekatnya sejak kelas
2. Risma adalah anak yang tomboy, teman – temannya kebanyakan laki – laki.
Sehingga sudah tahu semua sifat teman – temannya. Risma lalu menasihati Anto
“Kamu sebaiknya segera berbaikan sama
dia, kalau nggak kamu bisa nyesel loh”, katanya
“Gimana yah, iya deh kamu kan temenku
dari dulu”, jawab Anto dengan malas
“Oke?”, katanya meyakinkan Anto
“Oke deh”, jawab Anto
“Tos dulu dong”, katanya sambil
memberikan tangan pada Anto
Tetapi
Anto tidak berbaikan dengan Hamizah, malah dia ngeloyor pulang. Dia cepat –
cepat pulang karena ibunya memasak soto ayam. Malamnya tidak seperti malam –
malam yang biasanya Anto bermimipi. Bukan mimpi tentang petualangan seperti
biasanya, namun dia bermimpi tentang Hamizah. Dia bermimpi Hamizah abis potong
rambut dengan gaya rambut pendek. Setelah beberapa meter dari tempat ia potong
rambut tiba – tiba ia disekap oleh sekelompok orang yang mirip seperti Kelompok
Talibun eh.. Taliban. Itutuh, orang – orang brewokan yang suka pakai sarung di
kepala kayak abis nyuri ayam gitu. Tetapi, ketika Anto ingin menyelamatkannya
tiba - tiba Hamizah bilang begini “Lebih baik aku mati aja, daripada
diselamatkan anak jorok kayak kamu!”. Anto langsung bangun dari tidurnya, bukan
karena mimpi tadi. Dia langsung bangun karena dia dibangunkan oleh neneknya
karena sudah waktunya shalat Subuh. Kalok mbangunin, suara neneknya lebih
kencang daripada
bom
atom dan suaranya berulang – ulang terus kayak jamnya Spongebob gitu. Setelah
shalat Subuh dia merenungi mimpi tadi, dia menyesal karena tidak mendengar
nasihat dari Risma. Saat berada di sekolah menunggu bel masuk dia bercanda tawa
dengan teman – temannya. Tiba – tiba saja dia melihat Hamizah dengan pandangan
kaget, karena dia berpotong rambut dan yang paling mengagetkan potongan rambutnya
sama persis dengan yang diimpikannya. Anto sangat kaget dan sedikit takut,
kenapa mimpinya dapat menjadi kenyataan meskipun hanya sebagian kecil saja?.
Pada waktu istirahat tanpa basa – basi lagi Anto segera menemuinya.
“Maaf ya, yang kemarin itu cuma buat
nggoda kamu aja”, katanya dengan nada yang rendah
“Ya udah kalau gitu”, jawab Hamizah
“Tapi ada satu lagi yang ingin kuberi
tahu pada kamu”, katanya
“Apa?”, tanya Hamizah dengan penuh tanda
tanya dan dag-dig-dug
“Errr....bagaimana yah?Dasar Orang Palestina,
hahaha”, katanya sambil tertawa
“Dasar Israel, kirain mau bilang apa”,
jawab Hamizah dengan senang
Setelah
berbaikan mereka pun menjalani hidup seperti biasa, saling menjahili tentunya.
Sebenarnya jika tadi tidak diselingi dengan Intermezzo tersebut sebenarnya yang
ingin dikatakan Anto begini “Mau gak jadi pacarku?” tetapi tidak memungkinkan
karena Hamizah suka pada teman Anto yang bernama Aldi. Sudah menunggu beberapa lama untuk mengatakannya
eh... malah suka sama anak lain. Jadi
Anto harus menunggu lagi. Tetapi waktu menunggunya ternyata cukup lama karena
dia sudah berada di kelas 6. Dia harus fokus belajar, belum lagi wali kelas
yang sangat menuntut dan tugas yang menumpuk setinggi Gunung Bromo. Pusing
kepala pening, dia harus membuang hal – hal yang tidak perlu dipikirkan yaitu
seperti pacaran dan komplotannya. Setiap harinya tiada hari tanpa masalah,
teman – teman Anto selalu menggoda wali kelas mereka. Selalu ada saja, tentu
saja hal itu membuat kepala Anto mual dan perutnya pusing. Sampai – sampai dia
tidak masuk sekolah karenanya. Karena hampir satu minggu tidak masuk sekolah,
teman – temannya menjenguknya. Tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, hanya
teman – teman laki – laki yang menjenguknya. Tentu saja jika mereka yang datang
suasana menjadi ramai penuh canda tawa, tetapi Anto merasakan sesuatu yang
hilang dari dirinya. Sesuatu yang bernama.... nafsu makan. Ya iyalah, perutnya
aja pusing. Tidak terbesut satu pikiran pun terhadap Hamizah. Ya iyalah,
kepalanya aja mual ngapain mikirin Hamizah?
Setelah sembuh dia masuk sekolah lagi. Beberapa hari yang
melelahkan kemudian, tiba – tiba saja
ada sebuah berita bahwa Hamizah akan pindah ke kota kelahirannya. Hamizah akan
kembali ke kampung halamannya karena ayahnya sering sakit – sakitan dan saudara
ayahnya ingin mengajak keluarga Hamizah untuk kembali ke kampung halamannya.
Karena berita itu Anto sedikit kaget dan agak kecewa. Tetapi dia berpikir
“Ngapain mikirin dia? Toh aku masih harus menghadapi UASBN”. Benar juga adanya
yang dipikirkan Anto, karena Hamizah akan kembali ke kampung halamannya setelah
UASBN. Waktu – waktu mendekati pelaksanaan UASBN, ada kejadian heboh lainnya.
Ketika sedang menunggu bel istirahat dan tidak ada guru yang mengajar. Tiba –
tiba saja Anto melihat Hamizah, Risma, dan Via menangis. Tidak tahu apa yang
sedang terjadi, Anto hanya berpikir mungkin mereka terlalu berlebihan hanya
karena kepergian Hamizah “Ah mereka berlebihan, masak cuma gitu aja udah
nangis. Buang - buang waktu aja”, gumam Anto. Menunggu waktu UASBN memang amat
sangat lama, belum lagi masalah yang
bertubi – tubi dari segala penjuru dunia. Membuat hampir seluruh teman – teman
Anto strees abis. Untungnya, Anto dapat bertahan dari hal – hal yang begituan
dan tidak berakhir di Rumah ParaGa’normal alias RSJ. Akhirnya tibalah waktunya
sang monster bernama UASBN datang, ‘dereem, dem, dem,dem’ (biar ada soundefect
nya gitu). Saat – saat menegangkan telah lewat, waktunya santai. Bahkan, Anto
dan teman – temannya merayakannya dengan berekreasi di sebuah tempat yang
bernama Jurassic Park eh.. Jatim Park. Mereka bermain sesuka ria dan salah satu
tradisi yang musti dilakukan di sana adalah berenang. Suara ‘byar, byur’
terdengar berkali – kali dari mereka.
Ada yang kedinginan, ada yang keranjingan nggak mau keluar dari kolam
sama sekali. Tetapi, Anto tidak tertawa bersuka ria disana, malah dia ketakutan.
Alasannya karena dia berada di alam ghaib yang bernama rumah hantu. Ya iyalah,
masak di dalam sana tertawa kegirangan. Nanti hantunya sendiri yang malah
ketakutan. Memang menyenangkan kalau sedang berekreasi, semua masalah hilang,
semua hal yang bersifat kegalau – galauan sirna. Tetapi, ada satu momen yang
paling sulit untuk dilakukan. Yaitu momen yang bernama perpisahan. Memang sangat
sulit, persiapannya aja sangat menguras tenaga. Bayangin aja, persiapan dan
latihannya aja dimulai dari jam 7 pagi sampai... mau nebak? Jam 2? Jam 4?
Salah. Sampai jam 9 malam, apalagi harus latihan pakai suara perut juga. Perut
Anto menjadi sekeras baja, sampai – sampai dia phobia sama lagu yang berjudul
apa ya? Pokoknya yang ada liriknya “Jangan menyerah, jangan menyerah”.
Alhasil, perpisahan berjalan sangat lancar dan cukup
mengharukan. Bahkan ketika pembacaan puisi, Hamizah dan Risma sangat menghayatinya
sampai mereka berdua menangis. Anto kelihatan senang sekali setelah perpisahan
itu, mungkin karena dia sudah tidak akan melihat musuhnya lagi, siapa lagi
kalau bukan Hamizah. Memang karena setelah sudah selesai urusannya di sekolah
itu. dia akan kembali ke kampung halamannya. Anto juga senang dengan hal lain,
yaitu dengan nilai hasil ujiannya yang memuaskan dia dapat lulus dan masuk ke
SMP yang dipilihnya melalui jalur online dan pada waktu itu jalur online adalah
jalur penuh kompetisi. Tetapi, setelah masuk di SMPN 20 pada waktu MOS. Anto
tidak merasakan hal yang seperti dia rasakan sewaktu SD. Dia merasakan ada
sesuatu yang hilang dari hidupnya. “Apakah aku rindu sama anak itu ya? Ah gak
mungkin kalau iya lupain ajah”, gumamnya dengan berjalan tanpa lihat – lihat
dan menabrak tiang bendera. Dia terus melamun dan dia berpikir “Ah sebaiknya
aku cari apa gitu untuk ngilangin perasaan ini”, “Atau sebaiknya aku cari pacar
aja yah?”, pikirnya lagi. Lalu Anto berjalan – jalan untuk melihat sekeliling
sekolah barunya, ketika berkeliling dia melihat anak lagi ‘nembak’ temannya.
Tetapi setelah dilihat dengan teliti, ternyata pacaran jaman sekarang butuh
modal. Modalnya juga nggak tanggung – tanggung, harus jajan yang harganya
selangit seperti ‘Silver Queen’ (promosi). Melihat itu Anto langsung merinding,
karena selama ini dia merupakan anak yang hemat. Bukannya pelit, dia memang
tidak suka uang di hambur – hamburkan untuk hal – hal yang nggak berguna
apalagi pacaran. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk cari pacar, “Pacaran
ternyata pemborosan tingkat tinggi” gumamnya. Sepertinya Anto sudah tidak mau,
bahkan benci dengan kata pacaran. Hanya saja teman – temannya memaksanya untuk
segera berpacaran.
“Sudah punya pacar belom?”, tanya salah satu temannya
“Belum tuh”, jawabnya santai
“Kamu harus punya, itung – itung pengalaman”, paksa
temannya
“Pengalaman apa? Aku sudah banyak pengalaman”, jawabnya
“Ya pengalaman tentang cinta, lagian sudah remaja juga ”,
balas temannya
“Cinta itu apa ya?”, jawabnya seperti tidak tahu apa –
apa
“Ah, kamu gak romantis sama sekali yah.
Kayak anak kecil ajah”, balas temannya
“Biarin, emang aku anak kecil”, jawabnya
tidak mau kalah
Memang
diantara teman – temannya hanya Anto saja yang nggak punya pacar. Mereka selalu
memaksanya untuk segera mencari pacar. Bahkan sering memasangkannya dengan anak
lain.
“Anto, anak ini loh suka sama kamu”,
kata salah satu temannya
“Nggak mau”, jawabnya sambil
ngeloyor pergi
Begitu
terus yang dikatakan oleh teman – temannya setiap hari. Seperti kicauan burung
di pasar burung. Perkataan seperti itu hanya dianggapnya sebagai angin yang
berlalu. Tetapi ada juga temannya yang
berani mengatakan perasaannya kepada Anto. Dia bernama Deni. Pada suatu hari
saat rekreasi bersama teman satu lesnya.
“Kamu sudah suka sama anak lain belum?”,
katanya dengan agak malu – malu
“Sebenarnya sudah, emang kenapa sih?”,
jawab Anto penasaran
“Yaah, sebenarnya sih er.....”, katanya dengan gugup
“Ada apa sih? Omongin ajah”, jawab
Anto semakin penasaran
“Akuu... suka sama kamu”, katanya
dengan keringat bercucuran
“Halaah, cuman begituan, kirain apa.
Tapi aku sudah nggak mau lagi loh sama anak lain termasuk kamu. Maap ya”, jawab
Anto dengan santainya
“Ya udah deh, kita temenan aja yah”,
katanya dengan lesu
“Nah, gitu ajah, lebih enak”, jawab
Anto
Memang selama ini yang dilihat oleh
Anto pacaran itu pemborosan dari segi apapun. Dari segi waktu dia berpikir jika
dia berpacaran maka dia tidak akan mempunyai waktu untuk bersantai atau belajar
untuk dirinya sendiri. Karena pacaran sekarang itu harus menuntut untuk
diperhatiin yang cewek khususnya, harus 24 jam 7 hari. Dan dari segi ekonomi
yaitu segi yang sangat ia perhatikan, sangat rugi sekali. Tiap kali harus
nraktir belum lagi sekarang berlaku UU tentang PJ alias Pajak Jadian. Haduh –
haduh, pemborosan tingkat tinggi. Jadi karena semua itulah jawaban Anto
terhadap temannya seperti itu tadi. Setelah menghabiskan semangkok sotonya. Dia
kembali ke kelasnya, kelas 9A. Di sepanjang perjalanan hidupnya yang masih
sedikit, dia merasa tidak perlu `punya pacar. Setiap kali bertemu dengan
temannya yang bertanya tentang pacar dia selalu menjawab dengan jawaban yang
sama pada setiap pertanyaannya. “Nggak ada”, “nggak mau”, dan salah satu yang
populer “pemborosan”. Tetapi sebenarnya jawaban itu hanyalah sebuah kebohongan
yang dikatakan Anto
setiap harinya. Jawaban yang sebenarnya? Hanya dia yang tahu, mau menebak?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar