Rabu, 15 Januari 2014

Cerpen : Ngapain Punya Pacar

Bel penanda jam istirahat merupakan waktu yang sangat – sangat ditunggu oleh para murid bermuka sepet  setelah pelajaran fisika yang gak pernah ngerti – ngerti mulai Jaman Nabi Adam. Bagaikan bel yang dibunyikan dari Surga para murid begitu gembira dan bersyukur alhamdullilah. Di waktu istirahat mereka selalu melakukan hal yang sama setiap harinya  yaitu : berlomba – lomba menuju ke kantin, mengerjakan PR, dan berpacaran. Tetapi yang paling utama dari ketiga perkara tersebut adalah perlombaan ke kantin, karena jika terlambat beberapa detik saja yang terlihat hanyalah lautan siswa. Kali ini, Anto beruntung datang duluan karena setelah dia membeli semangkok soto sudah banyak anak – anak yang menunggu giliran di belakangnya.
Perutnya lapar sekali setelah pelajaran fisika tadi, ketika baru memakan beberapa suap soto tiba – tiba dia dikagetkan oleh tepukan di pundaknya. Saking kagetnya, dia hampir saja melancarkan tinjuan mautnya, tetapi setelah kagetnya hilang ternyata yang menepuk pundaknya hanyalah teman mainnya dulu.
“Gimana kabarnya jadi murid kelas 9A, enak? “, kata temannya.
“Ya enaklah, tapi masih enakkan soto”, balasnya.
“Ah kamu ini, tapi sudah punya pacar belum? Kalok belum mau aku carikan?” , kata temannya lagi,
“Belum, aku juga nggak mau punya pacar. Buat apa punya pacar? Pemborosan” , balas Anto.
”Kamu nggak asik yah, tapi terserah kamu deh aku tinggal dulu ya” ucap temannya sebelum beranjak dari tempat Anto. Tanpa mengucap apa-apa, Anto hanya melambaikan tangannya kepada temannya.
Sejenak, dia memikirkan apa yang dikatakan temannya tadi tentang pacar. Mungkin kata yang diucapkannya tadi bisa keluar dari mulutnya karena suatu peristiwa yang sudah terjadi di masa lalunya. Waktu sedikit mundur menuju masa SD Anto. Saat itu kelas 1 SD, Anto adalah anak yang polos dan yang ada dalam pikirannya hanya dua hal yaitu berbakti kepada orang tua dan belajar. Sebenarnya Anto merupakan anak yang pendiam dan kurang pandai dalam bergaul jadi temannya sedikit. Tetapi semua itu berubah ketika Anto sudah melewati Semester I. Dia mulai merasakan suatu hal yang tidak pernah ia rasakan yaitu saat dia melihat gadis manis bernama Hamizah. Hamizah juga satu kelas dengannya, karena di sekolahnya hanya ada satu ruangan di setiap kelasnya. Ketika pertama kali melihatnya, Anto tidak tahu harus berbuat apa jadi dia memendam perasaannya. Bahkan dia juga tidak tahu siapa namanya, tetapi hal itu terjawab setelah dia naik ke kelas 2. Karena sedikit demi sedikit dia mulai mempunyai teman jadi dia mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu teman Hamizah yang bernama Risma.
“ Siapa sih nama temanmu itu?” , kata Anto.
“ Siapa ya?” balas Risma.
“ Itu loh yang selalu pulang bareng sama kamu” , kata Anto lagi.
“ Oooh, Hamizah namanya” seru Risma.
Setelah dia mengetahui namanya, dia semakin suka padanya. Pada suatu hari, Anto bermain kejar-kejaran bersama adiknya. Karena bermain sampai jauh, eh dia berpapasan sama Hamizah yang pada saat itu juga bermain bersama adiknya. Jadilah mereka berempat bermain bersama, setelah capek, Hamizah mengajak Anto untuk main ke rumahnya. Tentu saja Anto sangat senang sekali karena diajak oleh Hamizah sendiri, dia kaget ternyata Hamizah anak yang ceria dan aktif padahal pada saat di sekolah Hamizah tidak banyak bicara. Anto juga kaget jika rumahnya berdekatan dengan rumah Hamizah.
Keesokan harinya Anto pamit untuk pergi ke rumah Hamizah. Di rumahnya dia bermain komputer, melihat kartun, bahkan diajak makan siang bersama oleh keluarganya. Hatinya sangat bahagia bagaikan pepatah pucuk dicita ulampun tiba. Tetapi karena sangat senangnya, dia lupa waktu. Dia bermain sampai siang dan akhirnya dijemput oleh ibunya. Maklum dia masih kecil, lalu waktu itu lagi maraknya penculikan anak kayak di sinetron gitu – gitu. Setelah hari itu, Anto selalu berkunjung setiap minggunya. Bahkan Anto sering mengajak Hamizah untuk pulang bareng, mereka sering mengobrol tentang film yang ditayangkan di televisi maklum namanya juga anak – anak. Mereka sudah berteman dekat, bahkan sudah seperti berpacaran. Akan tetapi jika Anto ditanya oleh temannya yang lain dia hanya menjawab “cuma berteman aja kok, nggak ada apa – apa”, sekarang dia sudah menjadi ahli dalam dosa kecil yang disebut BERBOHONG. Sebenarnya, Anto ingin menyampaikan perasaannya pada Hamizah ( kalau sekarang istilah gaulnya namanya ‘nembak’ ). Tetapi katanya kalau anak kecil pacaran nanti cepet tua. Namanya anak kecil kalau dikatain begituan gampang percayaan dia jadi tidak mau mengatakannya. Pada suatu hari
Hamizah berkata “Kamu punya film nggak?”.
 “Film? Buanyaak sekali”, balas Anto dengan pedenya.
“Oh ya, bawa donk ke rumahku, aku mau lihat”, kata Hamizah.
 “Oke, tapi filmnya cuma’ tentang dinosaurus aja lho”, balas Anto yang memang penggemar berat hewan tersebut, dia punya koleksi buku – bukunya, mainannya, sampai baju – bajunya.
“Nggak apa – apa”, kata Hamizah. 
“Ngomong – ngomong hewan kesukaanmu apa sih?”, tanya anto.
“Aku nggak suka hewan”, jawab Hamizah.
“AH, kamu nggak asik nih”, jawab Anto
Pada hari Minggu seperti biasa Anto pergi ke rumah Hamizah. Kali ini dia membawa film untuk ditonton seperti yang diminta oleh Hamizah. Setiap kali ke rumahnya, Anto selalu membawa film – film yang berbeda. Karena selalu ingin memberitahu film – film nya pada Hamizah, sampai ketika Hamizah sakit Thypus pun Anto tetap berkunjung untuk menjenguknya sambil membawa film. Tetapi hal itu membuat ibu Anto menjadi khawatir karena Anto selalu berkunjung ke rumah Hamizah sampai akhirnya ia memarahinya.
“Kalau kamu terus – terusan pergi ke rumah Hamizah, kemasin bajumu dan pindah ke rumahnya sana!”, kata ibu nya dengan nada yang agak keras.
“Iya bu, saya sudah nggak lagi ke rumahnya”, jawab Anto lesu.
Setelah kejadian itu, Anto sudah tidak pernah lagi datang ke sana. Hubungannya mereka pun merenggang. Sekarang Anto sudah beranjak ke kelas 4, dia mulai berteman dengan teman – temannya yang tergolong nakal dan dia pun sudah tidak polos seperti dulu lagi. Sekarang dia menjadi anak yang suka menjahili anak – anak perempuan, bahkan Hamizah.
            “Wah, kamu abis ngerayain pesta ya?”, goda Anto
            “Pesta apa?  Nggak ada yang ulang tahun, kan?”, jawab Hamizah
              “Itu tuh si Rosi di Moto GP kemarin kan menang, hihihi”, balas Anto dengan   tertawa
“Huh, dasar”, jawab Hamizah kesal.
Dia kesal karena Anto selalu menggodanya dengan menyebut nama ayahnya. Ya memang karena nama ayahnya sama dengan pembalap Valentino Rosi itu. Sekarang mereka selalu bermusuhan. Setiap harinya mereka selalu berusaha untuk saling menjahili dan berakhir dengan saling mengejek. Bahkan pada suatu hari
“Eh kamu tahu nggak, tadi di berita Jalur Gaza diserang oleh Israel”, kata Hamizah
“Oh ya? Wah kasihan ya”, jawab Via salah satu teman dekat Hamizah
“Ya kasihan memang, makanya kalau bisa aku mau membantu mereka”, kata Hamizah
Karena dari tadi Anto mendengar percakapan mereka, lalu dia menjawab “Halah,   kok kamu ngurus mereka orang kamu aja masih perlu bantuan kok, dasar Orang Palestina”
            “Biarin, dasar Orang Israel”, balas Hamizah
            “Ya Orang Israel”, timpal Via
            “Enakkan aku Orang Israel daripada kalian berdua Orang Palestina punya senjata buat nyerang kalian berdua”, kata Anto
            “Hiiii, ada Orang Israel” Jawab mereka berdua
            Ya, mereka selalu saja saling menjahili. Setiap kali bertemu selalu saja saling mengejek seperti itu. Tetapi meskipun bermusuhan, ternyata mereka masih saling peduli. Buktinya ketika Anto khitannan, Risma dan teman – temannya datang untuk menjenguknya. Ketika Risma dan yang lainnya memberi kado dengan uang patungan, Hamizah membawa sendiri hadiahnya yang merupakan barang dagangan orang tuanya. Orang tuanya adalah penjual buku pendidikan islami. Bahkan kado pemberian  Hamizah adalah buku cerita fabel, kesukaan Anto karena dia sangat suka hewan. Tentu saja hal itu membuat Risma dan gengnya berkata yang selalu dikatakan semua anak bila melihat sesuatu yang seperti itu. Kata yang sangat simpel tetapi sangat besar artinya. Suatu kata yang sangat tidak enak didengar. Suatu kata misteri. Suatu kata yang..... ah, panjang amat penjelasannya. Kita menyebutnya dengan kata C-I-E-E-H atau S-O-S-W-E-E-T dibaca “Cieeeh” atau “So Sweet”.
Tentu saja membuat Anto dan Hamizah risih karena mereka bermusuhan. Tetapi sebenarnya Anto sangat senang dengan hadiah yang diterimanya yang bahkan sampai dia SMP pun masih menyimpannya. Meskipun begitu tetap saja mereka bermusuhan, sepertinya sekarang Anto sudah tidak mempunyai perasaan kepadanya. Tetapi perasaan Anto memang sangat aneh. Dia memang bermusuhan dengan Hamizah, selalu menggoda dan menjahili dengan apapun dan bagaimanapun caranya. Akan tetapi, ketika temannya yang bernama Yohan ingin me ‘nembak’ Hamizah, Anto sangat geram dan cemburu. Untung saja Hamizah menolaknya karena perbedaan mereka sangat jauh. Bukannya menghina, jika dibandingkan menggunakan minuman, Hamizah adalah susu Swiss sedangkan Yohan adalah kopi luwak top brand. Hal itu membuat hati Anto gembira, tetapi juga membuat Yohan menjadi usil juga terhadap Hamizah. Memang aneh Anto dan Hamizah ini. Dibilang berteman nggak bisa, dibilang bermusuhan juga gak terlalu. Tetapi permusuhan semakin lama semakin besar, karena Anto secara perlahan tapi pasti telah berubah lagi menjadi anak yang jorok. Hal ini dikarenakan dia berteman dengan anak bernama Nugroho yang dianggapnya sebagai guru dalam hal yang bersifat jorok. Memang Anto sendiri yang salah, karena setiap harinya dipanggil teman – temannya dengan sebutan ‘banci’ dia jadi terhasut oleh mereka untuk melakukan persis seperti mereka agar tidak disebut dengan nama itu. Dia paling tidak senang apabila dipanggil ‘banci’ makanya dia berteman dengan Nugroho agar terlihat lebih gaul. Karena sifat joroknya tersebut, dia semakin jauh dari Hamizah.  Bahkan pikirannya pun tentang perempuan semakin aneh – aneh dan membuat Hamizah takut kepadanya. Pada suatu hari saat bertemu dengan Anto
“Kenapa sih kamu kok jadi begini”, katanya dengan sedikit jengkel
“Jadi gimana? Aku, kan nggak berubah”, jawab Anto dengan santainya
“Ya, jadi seperti anak – anak itu”, katanya lagi
“Terus, masalah”, jawab Anto lagi
“Huh, susah ya ngomong sama kamu”, katanya sambil pergi dari hadapan Anto
“Babain”, jawab Anto setengah berteriak
            Setelah kejadian itu Anto sama sekali tidak tertarik lagi dengan teman perempuannya manapun. Karena kebanyakan dari mereka akan menjauh, kecuali Risma yang merupakan teman dekatnya sejak kelas 2. Risma adalah anak yang tomboy, teman – temannya kebanyakan laki – laki. Sehingga sudah tahu semua sifat teman – temannya. Risma lalu menasihati Anto
“Kamu sebaiknya segera berbaikan sama dia, kalau nggak kamu bisa nyesel loh”, katanya
“Gimana yah, iya deh kamu kan temenku dari dulu”, jawab Anto dengan malas
“Oke?”, katanya meyakinkan Anto
“Oke deh”, jawab Anto
“Tos dulu dong”, katanya sambil memberikan tangan pada Anto
Tetapi Anto tidak berbaikan dengan Hamizah, malah dia ngeloyor pulang. Dia cepat – cepat pulang karena ibunya memasak soto ayam. Malamnya tidak seperti malam – malam yang biasanya Anto bermimipi. Bukan mimpi tentang petualangan seperti biasanya, namun dia bermimpi tentang Hamizah. Dia bermimpi Hamizah abis potong rambut dengan gaya rambut pendek. Setelah beberapa meter dari tempat ia potong rambut tiba – tiba ia disekap oleh sekelompok orang yang mirip seperti Kelompok Talibun eh.. Taliban. Itutuh, orang – orang brewokan yang suka pakai sarung di kepala kayak abis nyuri ayam gitu. Tetapi, ketika Anto ingin menyelamatkannya tiba - tiba Hamizah bilang begini “Lebih baik aku mati aja, daripada diselamatkan anak jorok kayak kamu!”. Anto langsung bangun dari tidurnya, bukan karena mimpi tadi. Dia langsung bangun karena dia dibangunkan oleh neneknya karena sudah waktunya shalat Subuh. Kalok mbangunin, suara neneknya lebih kencang daripada     
bom atom dan suaranya berulang – ulang terus kayak jamnya Spongebob gitu. Setelah shalat Subuh dia merenungi mimpi tadi, dia menyesal karena tidak mendengar nasihat dari Risma. Saat berada di sekolah menunggu bel masuk dia bercanda tawa dengan teman – temannya. Tiba – tiba saja dia melihat Hamizah dengan pandangan kaget, karena dia berpotong rambut dan yang paling mengagetkan potongan rambutnya sama persis dengan yang diimpikannya. Anto sangat kaget dan sedikit takut, kenapa mimpinya dapat menjadi kenyataan meskipun hanya sebagian kecil saja?. Pada waktu istirahat tanpa basa – basi lagi Anto segera menemuinya.
“Maaf ya, yang kemarin itu cuma buat nggoda kamu aja”, katanya dengan nada yang rendah
“Ya udah kalau gitu”, jawab Hamizah
“Tapi ada satu lagi yang ingin kuberi tahu pada kamu”, katanya
“Apa?”, tanya Hamizah dengan penuh tanda tanya dan dag-dig-dug
“Errr....bagaimana yah?Dasar Orang Palestina, hahaha”, katanya sambil tertawa
“Dasar Israel, kirain mau bilang apa”, jawab Hamizah dengan senang
Setelah berbaikan mereka pun menjalani hidup seperti biasa, saling menjahili tentunya. Sebenarnya jika tadi tidak diselingi dengan Intermezzo tersebut sebenarnya yang ingin dikatakan Anto begini “Mau gak jadi pacarku?” tetapi tidak memungkinkan karena Hamizah suka pada teman Anto yang bernama Aldi. Sudah  menunggu beberapa lama untuk mengatakannya eh... malah suka sama anak lain.  Jadi Anto harus menunggu lagi. Tetapi waktu menunggunya ternyata cukup lama karena dia sudah berada di kelas 6. Dia harus fokus belajar, belum lagi wali kelas yang sangat menuntut dan tugas yang menumpuk setinggi Gunung Bromo. Pusing kepala pening, dia harus membuang hal – hal yang tidak perlu dipikirkan yaitu seperti pacaran dan komplotannya. Setiap harinya tiada hari tanpa masalah, teman – teman Anto selalu menggoda wali kelas mereka. Selalu ada saja, tentu saja hal itu membuat kepala Anto mual dan perutnya pusing. Sampai – sampai dia tidak masuk sekolah karenanya. Karena hampir satu minggu tidak masuk sekolah, teman – temannya menjenguknya. Tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya, hanya teman – teman laki – laki yang menjenguknya. Tentu saja jika mereka yang datang suasana menjadi ramai penuh canda tawa, tetapi Anto merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya. Sesuatu yang bernama.... nafsu makan. Ya iyalah, perutnya aja pusing. Tidak terbesut satu pikiran pun terhadap Hamizah. Ya iyalah, kepalanya aja mual ngapain mikirin Hamizah?
Setelah sembuh dia masuk sekolah lagi. Beberapa hari yang melelahkan kemudian,  tiba – tiba saja ada sebuah berita bahwa Hamizah akan pindah ke kota kelahirannya. Hamizah akan kembali ke kampung halamannya karena ayahnya sering sakit – sakitan dan saudara ayahnya ingin mengajak keluarga Hamizah untuk kembali ke kampung halamannya. Karena berita itu Anto sedikit kaget dan agak kecewa. Tetapi dia berpikir “Ngapain mikirin dia? Toh aku masih harus menghadapi UASBN”. Benar juga adanya yang dipikirkan Anto, karena Hamizah akan kembali ke kampung halamannya setelah UASBN. Waktu – waktu mendekati pelaksanaan UASBN, ada kejadian heboh lainnya. Ketika sedang menunggu bel istirahat dan tidak ada guru yang mengajar. Tiba – tiba saja Anto melihat Hamizah, Risma, dan Via menangis. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, Anto hanya berpikir mungkin mereka terlalu berlebihan hanya karena kepergian Hamizah “Ah mereka berlebihan, masak cuma gitu aja udah nangis. Buang - buang waktu aja”, gumam Anto. Menunggu waktu UASBN memang amat sangat lama,  belum lagi masalah yang bertubi – tubi dari segala penjuru dunia. Membuat hampir seluruh teman – teman Anto strees abis. Untungnya, Anto dapat bertahan dari hal – hal yang begituan dan tidak berakhir di Rumah ParaGa’normal alias RSJ. Akhirnya tibalah waktunya sang monster bernama UASBN datang, ‘dereem, dem, dem,dem’ (biar ada soundefect nya gitu). Saat – saat menegangkan telah lewat, waktunya santai. Bahkan, Anto dan teman – temannya merayakannya dengan berekreasi di sebuah tempat yang bernama Jurassic Park eh.. Jatim Park. Mereka bermain sesuka ria dan salah satu tradisi yang musti dilakukan di sana adalah berenang. Suara ‘byar, byur’ terdengar berkali – kali dari mereka.  Ada yang kedinginan, ada yang keranjingan nggak mau keluar dari kolam sama sekali. Tetapi, Anto tidak tertawa bersuka ria disana, malah dia ketakutan. Alasannya karena dia berada di alam ghaib yang bernama rumah hantu. Ya iyalah, masak di dalam sana tertawa kegirangan. Nanti hantunya sendiri yang malah ketakutan. Memang menyenangkan kalau sedang berekreasi, semua masalah hilang, semua hal yang bersifat kegalau – galauan sirna. Tetapi, ada satu momen yang paling sulit untuk dilakukan. Yaitu momen yang bernama perpisahan. Memang sangat sulit, persiapannya aja sangat menguras tenaga. Bayangin aja, persiapan dan latihannya aja dimulai dari jam 7 pagi sampai... mau nebak? Jam 2? Jam 4? Salah. Sampai jam 9 malam, apalagi harus latihan pakai suara perut juga. Perut Anto menjadi sekeras baja, sampai – sampai dia phobia sama lagu yang berjudul apa ya? Pokoknya yang ada liriknya “Jangan menyerah, jangan menyerah”.
Alhasil, perpisahan berjalan sangat lancar dan cukup mengharukan. Bahkan ketika pembacaan puisi, Hamizah dan Risma sangat menghayatinya sampai mereka berdua menangis. Anto kelihatan senang sekali setelah perpisahan itu, mungkin karena dia sudah tidak akan melihat musuhnya lagi, siapa lagi kalau bukan Hamizah. Memang karena setelah sudah selesai urusannya di sekolah itu. dia akan kembali ke kampung halamannya. Anto juga senang dengan hal lain, yaitu dengan nilai hasil ujiannya yang memuaskan dia dapat lulus dan masuk ke SMP yang dipilihnya melalui jalur online dan pada waktu itu jalur online adalah jalur penuh kompetisi. Tetapi, setelah masuk di SMPN 20 pada waktu MOS. Anto tidak merasakan hal yang seperti dia rasakan sewaktu SD. Dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. “Apakah aku rindu sama anak itu ya? Ah gak mungkin kalau iya lupain ajah”, gumamnya dengan berjalan tanpa lihat – lihat dan menabrak tiang bendera. Dia terus melamun dan dia berpikir “Ah sebaiknya aku cari apa gitu untuk ngilangin perasaan ini”, “Atau sebaiknya aku cari pacar aja yah?”, pikirnya lagi. Lalu Anto berjalan – jalan untuk melihat sekeliling sekolah barunya, ketika berkeliling dia melihat anak lagi ‘nembak’ temannya. Tetapi setelah dilihat dengan teliti, ternyata pacaran jaman sekarang butuh modal. Modalnya juga nggak tanggung – tanggung, harus jajan yang harganya selangit seperti ‘Silver Queen’ (promosi). Melihat itu Anto langsung merinding, karena selama ini dia merupakan anak yang hemat. Bukannya pelit, dia memang tidak suka uang di hambur – hamburkan untuk hal – hal yang nggak berguna apalagi pacaran. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk cari pacar, “Pacaran ternyata pemborosan tingkat tinggi” gumamnya. Sepertinya Anto sudah tidak mau, bahkan benci dengan kata pacaran. Hanya saja teman – temannya memaksanya untuk segera berpacaran.
“Sudah punya pacar belom?”, tanya salah satu temannya
“Belum tuh”, jawabnya santai
“Kamu harus punya, itung – itung pengalaman”, paksa temannya
“Pengalaman apa? Aku sudah banyak pengalaman”, jawabnya
“Ya pengalaman tentang cinta, lagian sudah remaja juga ”, balas temannya
“Cinta itu apa ya?”, jawabnya seperti tidak tahu apa – apa
“Ah, kamu gak romantis sama sekali yah. Kayak anak kecil ajah”, balas temannya
“Biarin, emang aku anak kecil”, jawabnya tidak mau kalah
Memang diantara teman – temannya hanya Anto saja yang nggak punya pacar. Mereka selalu memaksanya untuk segera mencari pacar. Bahkan sering memasangkannya dengan anak lain.
            “Anto, anak ini loh suka sama kamu”, kata salah satu temannya
            “Nggak mau”, jawabnya sambil ngeloyor pergi
Begitu terus yang dikatakan oleh teman – temannya setiap hari. Seperti kicauan burung di pasar burung. Perkataan seperti itu hanya dianggapnya sebagai angin yang berlalu.  Tetapi ada juga temannya yang berani mengatakan perasaannya kepada Anto. Dia bernama Deni. Pada suatu hari saat rekreasi bersama teman satu lesnya.
“Kamu sudah suka sama anak lain belum?”, katanya dengan agak malu – malu
“Sebenarnya sudah, emang kenapa sih?”, jawab Anto penasaran
“Yaah, sebenarnya sih er.....”, katanya dengan gugup
            “Ada apa sih? Omongin ajah”, jawab Anto semakin penasaran
            “Akuu... suka sama kamu”, katanya dengan keringat bercucuran
            “Halaah, cuman begituan, kirain apa. Tapi aku sudah nggak mau lagi loh sama anak lain termasuk kamu. Maap ya”, jawab Anto dengan santainya
            “Ya udah deh, kita temenan aja yah”, katanya dengan lesu
            “Nah, gitu ajah, lebih enak”, jawab Anto
            Memang selama ini yang dilihat oleh Anto pacaran itu pemborosan dari segi apapun. Dari segi waktu dia berpikir jika dia berpacaran maka dia tidak akan mempunyai waktu untuk bersantai atau belajar untuk dirinya sendiri. Karena pacaran sekarang itu harus menuntut untuk diperhatiin yang cewek khususnya, harus 24 jam 7 hari. Dan dari segi ekonomi yaitu segi yang sangat ia perhatikan, sangat rugi sekali. Tiap kali harus nraktir belum lagi sekarang berlaku UU tentang PJ alias Pajak Jadian. Haduh – haduh, pemborosan tingkat tinggi. Jadi karena semua itulah jawaban Anto terhadap temannya seperti itu tadi. Setelah menghabiskan semangkok sotonya. Dia kembali ke kelasnya, kelas 9A. Di sepanjang perjalanan hidupnya yang masih sedikit, dia merasa tidak perlu `punya pacar. Setiap kali bertemu dengan temannya yang bertanya tentang pacar dia selalu menjawab dengan jawaban yang sama pada setiap pertanyaannya. “Nggak ada”, “nggak mau”, dan salah satu yang populer “pemborosan”. Tetapi sebenarnya jawaban itu hanyalah sebuah kebohongan    
yang dikatakan Anto setiap harinya. Jawaban yang sebenarnya? Hanya dia yang tahu, mau menebak?












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

script src="http://ayriyzone.googlecode.com/files/salju.js">